Berita KBRI

DIALOG KEBHINNEKAAN BERSAMA MASYARAKAT DAN DIASPORA RI DI DENMARK

 17 November 2017

SUASANA HANGAT DAN PENUH KEKELUARGAAN  WARNAI DIALOG KEBHINNEKAAN BERSAMA MASYARAKAT DAN DIaSPORA RI DI DENMARK

BH1

Pada hari Kamis, 16 November 2017 masyarakat dan diaspora Indonesia di Kopenhagen mendapatkan kesempatan berharga untuk melakukan tatap muka dan dialog dengan tokoh bangsa dan pejuang hak perempuan, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid,  Istri Presiden Indonesia ke 4 Abdurrahman Wahid, dan juga Ibu DR. Nurmala Kartini Panjaitan Sjahrir seorang ahli antropologi Indonesia, yang saat ini juga menjabat sebagai staf khusus perubahan iklim pada Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya. Dilaksanakan di Wisma Duta RI Kopenhagen, pertemuan yang dihadiri oleh kurang  lebih 80 WNI tersebut berlangsung hangat dan membahas berbagai hal terkait perkembangan situasi dan kondisi di Indonesia dan mendiskusikan posisi Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan beraneka ragam suku ras budaya dan agama.

BH4

BH2

Pada kesempatan itu Ibu Shinta menyampaikan bahwa salah satu langkah untuk menumbuhkembangkan rasa persaudaran dan saling menghargai,  saling menghormati antar sesama dapat dilakukan dengan dialog atau tatap muka dengan seluruh komponen bangsa tanpa melihat latar belakang suku agama ras dan antar  budaya. Bangsa Indonesia juga harus bersikap terbuka atau open minded dan bahwa Indonesia sebagai negara yang pluralis dan majemuk dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus memandang perbedaan yang ada sebagai suatu rahmat untuk Indonesia dan perbedaan tidak boleh menghambat tegaknya persatuan dan kesatuan. Masyarakat Indonesia yang bermukim di luar negeri harus menimba pengalaman dan memberikan sumbangsih berupa oleh-oleh yang dapat dipergunakan untuk menjaga kemajemukan Indonesia.

BH7

BH3

Sementara Ibu Kartini Sjahrir menyampaikan tentang pentingnya inklusivitas dan keterbukaan dan bahwa bangsa Indonesia harus bangga dengan perbedaan  dan kemajemukan yang ada dan harus dikelola dengan baik. Toleransi sebagai  syarat utama untuk menjaga kemajemukan dan kebhinnekaan sehingga setiap komponen bangsa harus menumbuhkembangkan sikap tolerasi terhadap sesamanya.

BH6

 

NKRI HARGA MATI, PANCASILA TETAP JAYA